KEBUMEN - Di tengah denyut kehidupan Kebumen, sebuah kisah inspiratif terukir dari keindahan sehelai kain batik. Dyah Wahyu Ristyani, seorang perempuan tangguh, membuktikan bahwa kecintaan mendalam pada seni dapat bertransformasi menjadi profesi yang membanggakan dan penuh prestasi. Perjalanannya dimulai dari ruang kelas hingga ke sentra batik nasional, mengukir jejak keberhasilan yang patut diteladani.
Dyah, yang juga aktif sebagai anggota Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXIX Kebumen, menjalani peran ganda dengan penuh dedikasi. Ia tak hanya mendampingi suami, Serma Munharis Suryo Hindriyo, yang bertugas di Koramil 06 Sruweng Kodim 0709 Kebumen, namun juga berkontribusi sebagai tenaga pendidik di SMP Negeri 9 Purworejo.

Awal mula ketertarikannya pada dunia seni bersemi di tahun 2003, saat ia mengajar sebagai guru honorer di SMP Negeri 25 Purworejo. Meskipun berlatar belakang pendidikan Bahasa Inggris, keterbatasan jam mengajar justru mendorongnya untuk menyelami kekayaan seni budaya. Di sanalah benih-benih kecintaannya pada seni mulai tumbuh subur.
“Awalnya hanya mencoba mengisi kekosongan jam mengajar, tapi justru di situ saya menemukan passion di bidang seni, ” ungkap Dyah, Kamis (9/4/2026).
Bakat seni yang telah mengalir sejak kecil membawanya menjelajahi berbagai medium ekspresi, mulai dari seni suara, tari, lukis, hingga kerajinan tangan. Titik balik krusial terjadi ketika ia mengikuti kepindahan tugas sang suami ke Pekalongan, sebuah kota yang dikenal luas sebagai jantung industri batik nasional. Di kota inilah, Dyah memutuskan untuk memantapkan langkahnya menekuni seni membatik secara serius.
Dari sekadar menawarkan produk batiknya kepada rekan kerja, peluang usaha mulai terbuka lebar. Respons positif yang ia terima menjadi cambuk semangat untuk terus berinovasi, menciptakan motif-motif batik yang menggali kearifan lokal. Lebih dari itu, ia bahkan merangkul para siswa untuk terlibat dalam proses kreatif, menjadikannya sarana pembelajaran seni yang berharga.
Dengan dukungan penuh dari sang suami, Dyah kemudian memberanikan diri membangun sebuah tempat produksi batik sederhana di kediamannya. Ia belajar secara otodidak, melalui serangkaian tantangan, eksperimen, dan proses panjang yang akhirnya membentuk ciri khas unik pada setiap karyanya.
Kerja keras itu membuahkan hasil manis. Pada tahun 2016, Dyah berhasil mengantongi sertifikasi pembatik dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Usaha rintisannya pun berkembang pesat dengan mendirikan CV Dewa Collections, yang menaungi brand “Dewa Lowano”. Kini, Dewa Lowano menjadi nama yang dipercaya untuk memenuhi berbagai kebutuhan instansi dan menyelenggarakan pelatihan.
“Semua proses ini tidak instan. Kuncinya adalah konsisten, terus belajar, dan berani mencoba, ” tegasnya.
Rangkaian prestasi Dyah terus bertambah seiring partisipasinya dalam berbagai pameran UMKM hingga merengkuh penghargaan di ajang fashion batik. Puncaknya, ia mendapat kepercayaan untuk mewakili UMKM Persit Kodam IV/Diponegoro dalam ajang nasional “Persit Bisa” pada tahun 2025, dan kembali terpilih pada tahun 2026.
Kisah Dyah Wahyu Ristyani menjadi bukti nyata bahwa ketekunan, keberanian, dan kecintaan yang tulus terhadap seni dapat membuka gerbang kesuksesan. Dari sebuah rumah sederhana di Kebumen, lahir karya-karya batik yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi tinggi, tetapi juga mengangkat martabat kearifan lokal serta menginspirasi banyak hati. (PERS)

Updates.